Press "Enter" to skip to content

Polemik PPDB Zonasi: Sekolah Harus Non Excludable, Non Rivarly dan Non Discrimination

Fenomena baru di bidang pendidikan Indonesia saat ini adalah adanya penerapan sistem zonasi, dimana pendaftaran dan pemilihan sekolah baru dibatasi sesuai dengan wilayah tempat tinggal anak didik baru. Ada sisi positif dan negatif dari penerapan PPDB Zonasi, bagi sekolah yang memang memiliki tradisi mendapatkan calon peserta didik dengan kualitas anak yang bagus tentunya tidak akan mudah untuk menarik calon siswa potensial. Namun bagi sekolah negeri yang non unggulan justru hal ini membawa peluang bagi mereka untuk memperoleh siswa potensial sehingga dapat menggugah pihak sekolah dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan pelayanan bagi siswa.

Sistem zonasi juga menguntungkan bagi masyarakat yang kurang mampu karena anak-anaknya dapat sekolah tanpa perlu memikirkan biaya akomodasi bagi putera-puterinya. Akan tetapi bagi keluarga yang menginginkan anaknya untuk mendapatkan sekolah yang bagus tentunya sistem ini dapat menghambat keinginan sebagian keluarga yang ingin melihat anak-anaknya bersekolah disekolah favorit. Memang masih ada kemungkinan untuk dapat diterima disekolah favorit diluat zona tempat tinggal, namun kesempatan tersebut sangat terbatas mengingat ada sistem prosentase yang diterapkan untuk calon peserta didik dari luar wilayah, dan tentunya persaingannya juga sangat ketat.

Penerapan PPDB berbasis zonasi memiliki nilai positif dan negatif, namun kebijakan tersebut tentunya dibuat untuk mengatasi suatu masalah sosial pendidikan yang direncakan melalui proses analisis dan kajian yang utuh. Oleh karena itu, kita perlu menyikapi sistem baru ini dengan bijak dan mengambil nilai positif dari kebijakan tersebut. Kelebihan dari sistem zonasi sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy bahwa sistem zonasi diberlakukan karena untuk memberikan akses dan keadilan terhadap pendidikan bagi semua kalangan. Pernyataan beliau seperti yang dilansir pada portal berita detik.com menyatakan jika;

“Pada dasarnya anak bangsa memiliki hak yang sama, karena itu pendidikan tidak boleh diskriminatif, hak eksklusif, dan kompetisi berlebihan. Sekolah negeri itu memproduksi layanan publik. Cirinya harus non excludable, non rivarly, dan non discrimination” (Muhadjir Effendy)

Penerapan sistem zonasi pada sekolah diharapkan mampu membuka akses pemerataan prestasi siswa sehingga tidak hanya terpusat pada sekolah-sekolah yang masuk kategori unggulan saja.

Informasi selengkapnya dapat dibaca pada portal detik.com, “Mendikbud Paparkan Kelebihan Sistem Zonasi di PPDB”.

Sumber gambar diambil dari : makassar.tribunnews.com

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *