Press "Enter" to skip to content

Merawat Jiwa Pustakawan

Apa yang ada dalam benak kita ketika mendengar nama pustakawan? pikiran kita akan dengan cepat merespon pertanyaan tersebut dengan menyebut kata petugas perpustakaan, buku atau lebih tepatnya penata buku. Sebuah profesi yang belum banyak dilihat orang sebagai suatu profesi yang menggiurkan mengingat tugas dan perannya lebih banyak dilihat hanya bekerja sebatas penjaga buku di perpustakaan. Hal ini menjadi salah satu dari sekian penyebab kenapa tidak sedikit dari lulusan sarjana maupun diploma Ilmu Perpustakaan yang merasa kurang yakin dengan bidang keilmuan yang mereka tempuh. Belum selesai masalah paradigma mengenai pustakawan, muncul pandangan jika lulusan Ilmu Perpustakaan hanya dipastikan akan bekerja dilingkungan pendidikan sebagai pustakawan yang mana salary yang diperoleh tidak sebanding dengan tanggung jawab dan beban kerja yang tinggi. Ada ketimpangan terhadap perlakuan yang diperoleh apabila bekerja sebagai pustakawan di beberapa jenis perpustakaan yang berbeda, seperti pustakawan yang bekerja dilingkungan perpustakaan sekolah tidak akan lebih baik nasibnya daripada pustakawan di perguruan tinggi karena kesejahteraannya dan pengembangan karir lebih terjamin. Selain itu, kebutuhan pustakawan yang tinggi ditingkat instansi negeri tidak didukung dengan adanya formasi yang tepat sehingga lulusan seperti menunggu sesuatu yang tak pasti. Berbagai pandangan miring masih sering terdengar tentang pustakawan baik dari eksternal profesi maupun lingkungan internal profesi sehingga membuat pustakawan seakan hanya berkembang ke dalam, dan kurang greget apabila harus tampil keluar karena muncul  rasa tidak percaya diri dalam diri kita sebagai pustakawan maupun sebagai mahasiswa ilmu perpustakaan.

Narasi diatas menjadi sebuah pengantar yang mengingatkan semua pihak terkait bahwa masih ada problem yang belum terselesaikan dalam internal profesi pustakawan. Akan tetapi problematika yang berkembang jangan berarti membuat kita menjadi apatis terhadap profesi dan mengalami kekecewaan mendalam karena telah terjun dalam lingkungan kepustakawanan. Pustakawan menjadi salah satu profesi yang unik selain profesi lain yang ada ditengah masyarakat kita. Sebuah contoh di negara sekelas Inggris kedudukan pustakawan sudah masuk pada level asisten profesor dengan pendapatan yang sangat besar, begitupun juga di negara-negara yang berjarak dekat dengan Indonesia. Pustakawan sudah mulai mendapat tempat untuk memperoleh pengakuan atas profesionalitas yang ditunjukkan. Khusus di negara kita bahwa pustakawan sedang mengalami fase berkembang ke arah yang positif, sehingga dalam fase ini kita sebagai aktor memiliki peranan penting untuk menjaga perkembangan tersebut dan berkontribusi dalam melakukan kontrol terhadap perkembangan yang berlangsung sehingga arah dan tujuannya lebih terarah.

Banyak hal yang dapat kita perbuat untuk pengembangan dunia pustakawan, salah satunya dengan cara merawat jiwa pustakawan yang melekat dalam diri kita semenjak memutuskan untuk menekuni dunia kepustakawanan. Mengartikan pustakawan tidak cukup hanya menyebutnya sebagai bagian dari profesi dan arah yang hendak kita capai setelah lulus perkuliahan, jika pandangan kita terhadap pustakawan masih sebatas itu maka orientasi kita pun hanya sebatas bekerja sebagai pustakawan dan mendapatkan kesejahteraan hidup melalui jalur pustakawan yang belum tentu membuat kita merasa cukup secara finansial. Jiwa pustakawan pada dasarnya sudah dimiliki oleh manusia manakala kita diciptakan dengan dibekali akal. Melalui akal seseorang mampu belajar secara terstruktur, menangkap pengetahuan, mengolah pengalaman dan menyimpannya ke dalam ruang memori yang ada pada otak sehingga suatu waktu jika membutuhkan akan ditemukan kembali dan disampaikan ulang dalam bentuk komunikasi. Pustakawan tidak hanya sekedar dimaknai sebagai sebuah profesi namun juga menunjukkan sifat dan keahlian seseorang. Semua orang dirasa memiliki jiwa pustakawan dan perbedaannya hanya pada segi wadah atau medianya saja. Pustakawan sebagai profesi memang harus dilalui melalui jalur akademis untuk dapat memperolehnya, namun jiwa pustakawan tidak hanya bicara pada batasan profesi saja melainkan makna pustakawan sendiri dapat diartikan sebagai jiwa pembelajar yang tak pernah padam. Filosofi pustakawan sebagai jiwa pembelajar memang sedikit mengada-ada namun jika kita mau mengupas kata pustaka yang memiliki arti koleksi. Pustaka (koleksi) tidak lepas dari buku yang mana buku digunakan sebagai media rekam pengetahuan. Sementara itu –wan merupakan suatu kata imbuhan yang merujuk pada tiga hal yaitu sebagai profesi, menunjukkan sifat seseorang dan keahlian. Oleh karena itu arti kata pustakawan sendiri dapat diartikan sebagai perekam pengetahuan apabila merujuk pada arti kata –wan sebagai keahlian.

Manusia dibekali kemampuan untuk melakukan perekaman terhadap pengetahuan karena memiliki media penyimpanan berupa otak. Oleh karena itu setiap orang tentu memiliki jiwa pustakawan yang harus dirawat dan juga dikembangkan. Sementara bagi kita yang terjun dibidang kepustakawan memiliki keuntungan tersendiri, mengingat kita dibekali pedoman-pedoman yang diperoleh melalui jalur akademik tentang sistematika mengelolah, merekam, merawat dan menyebarkan pengetahuan. Selain itu keuntungan lain kita peroleh manakala kita sangat dekat dengan pengetahuan yang sudah direkam dalam media bernama buku, sehingga kita memiliki peluang untuk terus belajar dan mengasah kemampuan otak kita dalam berpikir. Terlepas apakah kita akan bekerja di lingkungan profesi pustakawan atau justru mencoba keluar dari jalur kepustakaan, namun perlu diingat jika jiwa pustakawan harus tetap terjaga. Jiwa pembelajar dan mencintai pengetahuan harus tetap dirawat dan dikembangkan menyesuaikan kebutuhan pikiran yang terus berkembang.

Belajar dari Erathosthenes

Nama Erathosthenes terasa sangat asing bagi kita, namun siapa sangka jika dia merupakan salah satu tokoh besar Yunani. Erathosthenes dikenal sebagai bapak geografi, namun dia juga merupakan seorang pustakawan di perpustakaan Alexandria. Erathosthenes yang lahir di Yunani dikenal memiliki banyak profesi seperti geografer, matematikawan, astronom, sejarahwan dan penyair. Kecintaannya terhadap pengetahuan membuatnya terus belajar dan kedekatannya dengan pengetahuan melahirkan minat-minat baru terhadap bidang keilmuan lain yang membuatnya justru lebih terkenal dalam bidang geografi daripada sebagai pustakawan.

Sejarah Erathosthenes seharusnya memantik semangat dan memberikan motivasi kita terhadap jiwa pustakawan pada diri kita. Manusia pembelajar tentunya akan memperoleh banyak pengetahuan yang dikemas sesuai dengan peminatan pribadi terhadap bidang keilmuan. Kita sebagai pustakawan tentu memiliki keuntungan lebih sebagaimana yang diterima oleh Erathosthenes, perpustakaan memberikan pengetahuan melimpah yang dapat dikonsumsi suatu waktu. Erathosthenes tidak hanya menunaikan pekerjaannya sebagai pustakawan melainkan juga memanfaatkan waktu dan kesempatannya dengan memperdalam pengetahuan yang mengarahkannya sebagai seorang tokoh besar dibidang geografi dan astronomi. Tidak ada salahnya jika kita menginginkan perubahan dalam hidup sebagaimana yang ingin kita capai. Erathosthenes merupakan salah satu contoh jika tokoh besar dibidang-bidang tertentu juga lahir dari mengawali karir sebagai pustakawan. Erathosthenes juga merawat jiwa pustakawannya dengan tetap sebagai sosok pembelajar manakal dia sudah tidak lagi bekerja sebagai pustakawan. Erathosthenes menjadi contoh positif untuk dapat kita jadikan sebagai salah satu panutan disaat kita sedang bimbang terhadap posisi tawar kita sebagai lulusan ilmu perpustakaan. Kesempatan kita yang dekat dengan pengetahuan harusnya dapat dimaksimalkan dengan baik untuk membantu kita dalam hal pengembangan diri dan menciptakan sesuatu yang berguna serta memiliki nilai tawar yang lebih tinggi ditengah masyarakat.

Source :

Awangga, Rolly Maulana. (2019). Pengantar Sistem Informasi Geografis; Sejarah, Definisi dan Konsep Dasar. Bandung : Kreatif Industri Nusantara.
____________. (2017). Penggunaan Imbuhan -man,-wan dan -wati dan Contohnya dalam Kalimat. Diakses melalui https://dosenbahasa.com/penggunaan-imbuhan-man-wan-dan-wati. Tanggal 06 November 2019.

Image Source:
www.thebalancecareers.com

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *