Press "Enter" to skip to content

LITERASI DIGITAL BAGI PERPUSTAKAN SEKOLAH di MASA PANDEMI

Oleh : Mei Ariadini

Covid-19 atau istilah lainnya Coronavirus Disease-19, merupakan virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China. Kasus ini pertama kali diketahui oleh komunitas medis internasional Wuhan hingga saat kini asal –usulnya belum jelas. (Sumber : Detikhealth)

Awal tahun 2020 hingga saat ini awal tahun 2021, merupakan tahun dimana setiap manusia disegala penjuru dunia di uji dengan adanya penyebaran pandemi Covid-19, tak terkecuali termasuk Indonesia. Sehingga berakibat hampir setiap kepala Negara mengambil kebijakan seperti menutup pintu masuk maupun keluar bagi warga Negara asing maupun lokal untuk datang berkunjung dan keluar negeri, pembatasan sosial baik berskala besar maupun kecil, dan menjaga jarak/ karantina social/karantina mandiri. Dengan kebijakan tersebut dapat diharapkan dapat memutus rantai penyebaran virus covid-19.

Dampak pembatasan sosial ini sangat  besar dari berbagai sektor, salah satunya adalah dalam dunia pendidikan, sekolah diliburkan hingga waktu yang tidak dapat dipastikan, dan pendemi ini juga sangat berdampak pada pelayanan khususnya bagi pelayanan peminjaman dan pengembalian di perpustakaan sekolah. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah, karena dengan tutupnya sekolah maka tutup pula dengan perpustakaan yang ada disekolah tersebut .

Oleh karena itu, pustakawan yang merupakan salah satu penggerak mekanisne organisasi atau lembaga kerja di perpustakaan  sekolah tersebut harus memiliki tanggung jawab, yang  tak sekedar hanya melakukan tugas rutin, harus mampu membuka diri dan bisa menyampaikan informasi yang akurat kepada para pemustaka meskipun dalam kondisi pandemic Covid yang terjadi saat ini. Bahkan ini juga bisa dijadikan momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada pemustaka. Pustakawan juga memiliki tanggung jawab dan tugas penting untuk mengembangkan dan menyediakan layanan dan koleksi bagi siswa-siswi di sekolah tersebut.

Meskipun demikian, selama penerapan belajar dari rumah (BDR), kegiatan literasi siswa-siswi berkurang maka sebagai pustakawan perpustakaan sekolah harus mampu berinovasi untuk mengarahkan pemustaka (siswa-siswi) untuk dapat mengakses koleksi digital yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah tersebut, dan bahkan juga bisa mengarahkan ke beberapa perpustakaan yang menggratiskan beberapa ebook yang dimiliki seperti perpustakaan digital ipusnas dan perpustakaan digital djatim. Perlu dipahami bahwa literasi digital juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengolah dan memahami informasi dalam proses menulis dan membaca yang tidak hanya bertumpu pada buku melainkan juga bisa memanfaatkan jaringan teknologi informasi yang ada.

Meskipun kegiatan belajar mengajar disekolah tidak seperti sebelumnya, melalui kerjasama dan bantuan guru beserta bimbingan dan arahan kedua orang tua, tugas pelaksanaan kegiatan perpustakaan dapat berjalan dengan lancar.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *